Masih teringat dalam ingatan saya, ada seorang teman pernah berkata kurang lebih begini "Saya ini miskin, biarlah saya merasa kaya dengan rahasia yang saya punya". Bukan tanpa sebab ia berkata seperti itu, tetapi kala itu saya memang sedang mengulik sesuatu darinya. Betapa malunya saya saat itu, tertohok sangat dengan pernyataannya, "Ngapain juga sih nanya-nanya begitu ke dia" begitu pikir saya saat itu. Hal yang saya tanyakan toh bukan sebuah hal besar yang penting dalam kehidupan pribadi saya. Ibaratnya, tidak ada kerugian jika saya tidak menanyakannya. Ah, hal itu cukup membekas dalam benak saya hingga saya berhati-hati untuk mengobrol dengannya. Saya pun teringat kisah Dae Jang Geum yang harus melihat ayahnya tertangkap tentara karena ia tiidak sengaja membocorkan rahasia bahwa ayahnya dulu pernah terlibat dalam skandal pembunuhan ratu saat itu. Tidak hanya itu, ibunya pun juga menjadi buron para tentara istana sampai akhirnya ia meninggal. Setelah ditinggal kedua orangtuanya, Jang Geum yang terlihat sanguinis, senang bicara, dan ceria berubah menjadi seseorang yang pendiam dan sangat menjaga bicaranya. Karena menurutnya, mulutnya telah membuat kedua orang tua yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya.
Seorang muslim dilarang bersifat khianat dan senantiasa menjaga amanah termasuk rahasia. Terlebih lagi jika rahasia tersebut adalah aib. Al Munaawi rahimahullah berkata, “Tidak setiap orang yang amanah menjaga harta juga amanah menjaga rahasia. Menjaga diri dari harta lebih mudah daripada menjaga diri untuk tidak menyebarkan rahasia”. Allah menjaga aib kita dimalam hari namun kita membukanya di pagi hari :
وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: ((كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَقُوْلُ: يَافُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ)) متفق عليه
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosa kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. Ia berkata, “Wahai fulan, semalam aku berbuat ini dan itu”. Sebenarnya pada waktu malam Tuhannya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi justru pagi harinya ia membuka aibnya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah. (HR: Bukhari dan Muslim).
Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,” Hati ibarat bejana dan bibir adalah gemboknya, sedangkan lisan adalah kuncinya. Maka setiap orang hendaknya menjaga kunci rahasianya.” Jagalah rahasia pribadi, adukan kepada Allah jika ingin sekali diungkapkan. Terkadang kita malah lebih senang jika curhat kepada manusia padahal jika kita memendam rahasia aib kita maka kita akan terjaga, hati kita akan kaya dan terhindar dari penyakit hati. Bukankah hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram? Rahasiapun terjamin dan kita menjadi lebih dekat dengan Allah yang dengan demikian keberkahan hidup InsyaAllah akan didapat.
Wallahua'lam bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar